Mitos 8 dari 10
8. Mitos: kelelawar itu buta
Semua spesies kelelawar bisa melihat. Banyak juga yang menggunakan ekolokasi, semacam sonar, tetapi itu melengkapi penglihatan, bukan menggantikannya.
Mata dan telinga bekerja sama
Ada lebih dari 1.400 spesies kelelawar, dan mereka hidup dengan cara yang sangat berbeda. Kelelawar kecil yang berburu serangga di malam hari biasanya bermata kecil dan sangat mengandalkan suara. Sementara kelelawar besar pemakan buah, yang ditemukan di Asia, Afrika, dan Oseania, memiliki mata besar dan penglihatan yang baik di kegelapan.
Dalam ekolokasi, kelelawar mengeluarkan suara frekuensi tinggi, sebagian besar di atas batas pendengaran manusia, lalu mendengarkan gema yang memantul dari benda-benda di sekitarnya. Dengan cara ini ia dapat menghitung jarak, ukuran, bahkan tekstur serangga saat sedang terbang.
Studi menunjukkan bahwa banyak kelelawar menggunakan penglihatan untuk menentukan arah pada jarak yang lebih jauh, misalnya saat menuju tempat bertenggernya, dan menggunakan sonar untuk detail di jarak dekat. Beberapa spesies bahkan dapat melihat cahaya ultraviolet.
Kelelawar juga penting bagi alam. Banyak yang memakan serangga dalam jumlah besar, dan yang lain membantu penyerbukan tanaman serta menyebarkan biji. Agave yang digunakan untuk membuat tequila, misalnya, diserbuki oleh kelelawar.
Di Brasil hidup lebih dari 180 spesies kelelawar, sebagian besar pemakan serangga atau buah. Dari lebih dari 1.400 spesies di dunia, hanya tiga yang memakan darah, dan ketiganya berada di Amerika.
Tahukah kamu? Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang benar-benar bisa terbang dengan mengepakkan sayapnya. Sayap itu pada dasarnya adalah tangan dengan jari-jari yang sangat panjang yang dihubungkan oleh selaput kulit.

